Rabu, 05 Juni 2013

SIM

Wajahnya terlihat bahagia, lalu tangannya merogoh isi tasnya,"Lihatlah.." pamernya padaku.
"SIM?" tanyaku dengan kening berkerut.
"Iya, aku menyikuti saranmu kak" senyum bahagia itu masih nyaman berada di wajahnya.
Aku ikutan tersenyum melihat antusiasnya, tapi berpikir keras, kapan aku menyarankan dia memiliki SIM? diakan...

 
Sudah lama rasanya tak melihat senyum bahagia itu diwajahnya, karena pengkhianatan suaminya yang tiba-tiba dan mengejutkan banyak pihak. Dan aku menyarankan dia berubah, lebih baik, lebih mandiri daripada menyesali semua yang telah terjadi.
"Lupakan masa lalu, ada hari esok yang menunggu" kataku berusaha bijak, mencoba menenangkan seorang teman yang gundah.
"Ubahlah penampilan, tambah ilmu, coba sesuatu yang belum pernah kamu coba sebelumnya, belajar bawa motor misalnya?" saranku, itu pembicaraan tiga hari lalu.

Dan hari ini, dia tepat berdiri didepanku, memperlihatkan SIM yang baru dimilikinya.
Dengan sebuah tanda tanya di kepalaku, aku baru memberi saran tiga hari yang lalu, tapi dia sudah memiliki SIM, woww...gerak cepat ternyata.

"Sudah lancar ya?" tanyaku setengah takjub.
"Belum kak, belum coba ke jalan besar"
"Lho..SIM-nya?"
"SIM tembak, buat jaga-jaga, kalau ke jalan besar kan, biasa ada polisinya".
Dia makin pintar.

***
#SIM tembak: SIM yang diperoleh tanpa test ketat, cukup isi formulir, terus jepret, jadi deh.

Tulisan ini untuk GA-nya mba Hana Sugiharti